Pengunjung, sejak

01 Desember 2014

 

pageview:

Free Counter

 

 

Unique Visitors:

Free Counter

 




Pengawetan

Pengawetan

PEMBINAAN HABITAT KAKATUA JAMBUL JINGGA (Cacatua sulphurea citrinocristata)

Kakatua jambul jingga (Cacatua sulphurea citrinocristata) adalah salah satu jenis diantara fauna endemik yang ada di kawasan TNLW.Hingga saat ini data mengenai jumlah populasi kakatua jambul jinggadi kawasan ini belum diketahui secara pasti, akan tetapi keberadaannya diperkirakan tidak lebih dari 300 ekor. Hal ini dapat terlihat dari  agak sulitnya  menjumpai keberadaan kakatua jambul jingga. Kerusakan hutan baik dari faktor manusia maupun faktor alam yang jelas mengganggu habitatnya diduga menjadi penyebab populasi kakatua jambul jingga dari tahun ke tahun cenderung tidak berkembang bahkan menurun.

Selain hal tersebut diatas,salah satu hal penting mengenai pohon sarang yaitu pohon Mara (Tetrameles nudiflora) mempunyai potensi yang cenderung sedikit dan memiliki siklus pertumbuhan yang lama menyebabkan siklus pertumbuhan dan perkembangbiakan kakatua jambul jingga tersebut juga akan ikut terganggu. Sehingga diperlukan upaya untuk menjaga kelestarian pohon sarang yang terkait dengan kelangsungan hidup kakatua jambul jingga. Dilatarbelakangi oleh hal tersebut maka salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan  pembinaan habitat kakatua jambul jingga di kelompok hutan Billa, Desa Billa, Kecamatan Tabundung yang masuk dalam Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I. Harapan dari pembinaan habitat kakatua jambul jingga ini tak lain adalah agar keberadaan populasi serta vegetasi yang menjadi pohon sarang kakatua akan tetap terjaga dan lestari.

Maksud dari pembinaan habitat kakatua jambul jingga ini adalah untuk memperbaiki kondisi habitat dan perkembangan keberadaan kakatua sumba di kawasan TNLW, dimana kegiatan-kegiatan  yang dilakukan adalah meliputi :

1.         Identifikasi bio ekologi di lapangan

Pengambilan data di lapangan pada metode ini dilaksanakan dengan pengamatan/observasi terhadap kondisi lokasi vegetasi habitat alam. Hasil identifikasi bio ekologi di lapangan menunjukkan bahwa jenis pohon yang paling banyak dipakai burung kakatua jambul jingga sebagai pohon sarang adalah jenis Mara (Tetrameles nudiflora), sebagian kecil jenis Mosa (Pometia pinnata),  wai rara, lobung (Decaspermium sp) dan kaduru. Pohon mara yang dipakai sebagai pohon sarang adalah pohon yang sudah tua dan memiliki ketinggian lebih dari 10 meter dan umumnya lebih tinggi dari pohon yang ada di sekitarnya. Ketinggian tersebut berhubungan dengan sisi keamanan agar terhindar dari musuh/predator.

Pohon sarang biasanya berada di kaki bukit dan dalam kondisi yang terhindar dari tiupan angin serta tidak ada liana yang merambat pada batang pohon sarang tersebut.Kondisi lain yang terlihat adalah cabang pohon yang dijadikan pohon sarang umumnya tidak bersinggungan atau menempel dengan ranting/pohon yang lain. Hal yang demikian untuk menghindari musuh atau predator yang lain tidak dapat menyeberang lewat bagian pohon yang menempel tersebut misalnya tikus. Sarang terdapat pada bagian pohon yang lapuk yang memiliki karakteristik berikut :

a)     Ukuran Sarang 1 : dalam rata-rata 35 cm, dalam ke  bawah 9 cm, lebar lubang 20 cm, panjang lubang 30 cm.

b)    Satu pohon hanya satu sarang, satu sarang terkadang 4 ekor (2 jantan dan betina)

Sedangkan sifat dari burung kakatua jambul jingga tersebut adalah sebagai berikut :

a)     Masa mengeram 28 harian

b)    Masa bertelur burung kakatua mulai September s/d Maret.

c)     Perilaku kakatua ketika mulai bertelur hingga menetaskan telurnya adalah sebagai berikut :

üMau bertelur                : menggunting ranting tajuk pohon sarang yang-

                berhubungan  dengan tajuk pohon lain.

üBertelur         : menggunting lagi ranting tadi yang bertunas.

üMengeram    : menggunting lg yang ketiga kalinya

üMenetas        : mengggunting ranting yang ke empat kalinya

 

 

2.         Pembersihan Liana yang merambat pada pohon sarang

Dilakukan dengan memotong liana-liana yang merambat di pohon sarang secara manual dengan menggunakan parang. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir musuh/predator yaitu tikus dan sejenisnya agar tidak dengan mudah merayap batang pohon melalui liana tersebut untuk menuju sarang burung kakatua jambul jingga. Pembersihan pohon sarang dari liana ini seyogyanya dilakukan secara berkala namun dilakukan secara hati-hati agar tidak menggangu keberadaan kakatua jambul jingga pada pohon sarang tersebut.

 

3.         Penanaman biji Kepapang/kacang koro (Phaseolus lunatus)

Kepapang merupakan jenis tanaman merambat yang berkembang biak secara generatif. Selain sebagai sumber bahan pakan tanaman koro ini mempunyai manfaat yaitu sebagai obat sariawan dan penambah nafsu makan (daun yang masih muda) karena mengandung saponin, polifenol, dan flavonoida. Keberadaan tanaman pakan jenis ini sebagian besar hidup diluar dan sebagian kecil terdapat di dalam kawasan TNLW. Kondisi ini mendorong dilakukannya penanaman untuk menambah ketersediaan bahan pakan di dalam kawasan sehingga diharapkan kakatua sumba  tidak sampai keluar dari kawasan untuk mencari makan. Dengan dasar pemikiran bahwa apabila burung kakatua sumba mencari makan sampai keluar kawasan maka resiko terbesar yaitu akan ditangkap oleh masyarakat. Teknik penanaman yaitu biji tanaman koro langsung di tanam di lapangan dengan membuat lubang tanam terlebih dahulu kemudian ditutup kembali dengan tanah dan lubang yang dibuat berada di antara bibit tanaman Mara.

 

4.         Pengayaan jenis vegetasi hutan

Dilakukan dengan penanaman jenis yang merupakan jenis kesukaan kakatua sumba untuk dijadikan sarang. Bibit atau semai yang digunakan untuk pengayaan jenis adalah Mara (Tetrameles nudiflora) sebanyak 300 batang. Sebelum bibit ditanam diberi label (PHKS/TNLW-2/2011) untuk mempermudah dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Lokasi penanaman adalah daerah yang sering ditemui keberadaan kakatua jambul jingga yaitu di daerah hutan Billa. Lokasi penanaman berupa lahan dengan kondisi terbuka/tanpa naungan pohon lain dengan system jalur dengan jarak tanam adalah 3 meter x 3 meter.

 

Pelaksanaan penanaman dilakukan dengan dengan cara membuat lubang terlebih dahulu dengan ukuran lubang tanam yaitu 20cm x 20cm x 20cm. Selanjutnya bibit Mara yang telah disiapkan ditanam pada lubang yang telah disediakan serta dipasang ajir. Ajir yang dipasang tersebut juga berguna untuk menandai bahwa di tempat tersebut terdapat bibit Mara. Selain itu ajir berfungsi untuk menyangga bibit sehingga aman dari bahaya hembusan angin dan memudahkan untuk kegiatan monitoring di waktu yang akan datang.

 

Pelaksanaan kegiatan pembinaan habitat kaktua sumba ini telah berjalan dengan baik dan lancar. Namun kedepannya perlu dilakukan perawatan terhadap semai Mara, monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan sehingga tujuan yang telah ditetapkan pada kegiatan ini dapat terwujud.Harapan kedepan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah terwujudnya  kawasan TNLWbeserta komponen-komponen ekosistem yang ada didalamya, terutama keberadaan burung kakatua jambul jinggatetap terjaga kelestariannyadan mampu untuk bertahan hidup serta berkembang biak.