Pengunjung, sejak

01 Desember 2014

 

pageview:

Free Counter

 

 

Unique Visitors:

Free Counter

 




Pengenalan Agroforestry Silvopastura

Pengenalan Agroforestry Silvopastura

Strategi pemberdayaan masyarakat
melalui pengenalan Agroforestri Silvopastura

 

Kawasan Sumba Timur merupakan daerah yang memiliki kekhasan baik dari segi iklim maupun dari segi geologi. Menurut berbagai sumber daerah Sumba Timur merupakan daerah dengan bahan induk tanah yang berasal dari batuan karang atau dasar laut yang terangkat ke permukaan sehingga memiliki struktur geologi yang sangat khusus. Berdasarkan Peta Geologi Bersistem Nusa Tenggara Skala 1 : 250.000 yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung (1993) formasi geologi Pulau Sumba adalah berupa endapan permukaan (Aluvium) tersusun dari lempung, lanau, pasir, kerikil, dan bongkah; Batuan Sedimen yang tersusun atas batu gamping, batu pasir, batu lempung,  batu lanau, napal, tufan dan konglomerat; Batuan Gunung api tersusun dari lava, breksi gunung api tulf dan andesit; dan yang terakhir adalah batuan terobosan yang tersusun atas sienit, dorit, granodiorit, dan granit. Minimnya atau tipisnya lapisan tanah pada sebagian besar daerah menyebabkan produktifitas pertanian sebagai mata pencaharian menjadi sangat minim. Daerah-daerah tersebut hanya dapat ditumbuhi oleh  alang-alang bila tanpa dilakukan perlakuan khusus atau pengkayaan jenis. Dengan kondisi tersebut maka masyarakat lebih menggantungkan hidupnya dengan beternak. Maka prestise yang timbul adalah dengan memiliki ternak yang sebanyak-banyaknya maka tingkat kesejahteraan serta tingkat kelas sosialnya juga meningkat. Kondisi tersebut juga menyebabkan ketergantungan para pemilik ternak terhadap keberadaan pakan secara alami tanpa adanya usaha untuk peningkatan keberadaan pakan.

 

 

Salah satu bentuk usaha yang paling sering dilakukan namun bersifat destruktif adalah dengan membakar padang untuk memacu pertumbuhan pakan secara alami. Dalam jangka pendek pembakaran padang memberikan keuntungan bagi para peternak karena dapat memacu tumbuhnya rumput atau alang-alang baru sebagai pakan ternak tanpa menanam, namun bila dilihat dampaknya secara menyeluruh maka dampak ekologis yang ditimbulkan sangatlah besar. Matinya berbagai organisme tanah baik dari permukaan hingga dalam serta pencemaran udara. Hilangnya satwa-satwa tanah yang mungkin ada serta matinya berbagai predator alami yang mungkin tinggal dan berkembang biak disana dapat mengganggu kestabilan ekosistem yang telah terbentuk.

 

Minimnya pengetahuan tentang teknologi dan budidaya pakan ternak serta etos kerja yang rendah  merupakan kendala utama dalam pengembangan produksi pakan ternak. Perubahan sikap dan perilaku masyarakat harus didorong sehingga memiliki kesadaran yang tinggi terhadap keberadaan dan kelestarian lingkungan. Bila dilihat dari banyaknya ternak dan minimnya pakan maka cara yang paling umum dilakukan peternak adalah dengan menggembalakan ternaknya di padang ataupun di hutan. Penggembalaan ternak baik di dalam kawasan hutan maupun di padang dipandang memiliki keuntungan bagi para peternak karena mereka tidak harus bersusah payah untuk menyediakan pakan bagi puluhan bahkan ratusan ternaknya.  Namun pola penggembalaan liar yang dilakukan memiliki dampak negatif yang tidak sedikit bagi lingkungan. Pola-pola penggembalaan liar yang selama ini dilakukan harus dilokalisir untuk meminimalkan berbagai kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh ternak seperti pemadatan tanah, kerusakan kulit batag pohon yang dapat memacu kerusakan atau penyakit bagi tanaman serta matinya tanaman muda yang dimakan oleh ternak. Pengenalan berbagai bentuk agroforestri  khususnya yang berkaitan dengan ternak mungkin dapat dikembangkan untuk meningkatkan produksi pakan serta melokalisir kerusakan lahan baik lahan pertanian maupun kawasan hutan akibat ternak.

 

Agroforestri adalah  bentuk kolaborasi pemanfaatan lahan secara optimal untuk optimalisasi pemanfaatan lahan baik dari segi ruang maupun waktu guna meningkatkan prosuktifitas lahan. Definisi yang dipakai oleh ICRAF yaitu (seperti yang disebutkan oleh Lundgren dan Raintree, 1982) : Agroforestry adalah kumpulan istilah untuk sistem dan teknologi pemanfaatan lahan dimana tanaman kayu yang  berumur panjang (pohon, semak, palma, bambu dll.) dibudidayakan secara sengaja dalam satu unit  pengelolaan lahan dengan tanaman pertanian dan/atau ternak dengan pengaturan ruang dan waktu tertentu. Pada sistem agroforestri terdapat interaksi antar komponen secara ekologis dan ekonomis.

 

 Tujuan agroforestri mencakup  pemanfaatan cahaya secara maksimal, optimalisasi dan efisiensi penggunaan tanah dan air, meminimalisir hilangnya unsur hara dalam sistem, dan  meminimalkan run-off dan erosi. Ada beberapa bentuk agroforestri yang dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat secara umum salah satunya adalah silvopastura. Silvopastura merupakan salah satu bentuk manipulasi untuk mengakomodasi  antara kebutuhan jangka panjang lingkungan dengan tanaman keras (pohon) serta memenuhi kebutuhan ternak misal pakan ternak. Secara sederhana pengertian silvopastura adalah kombinasi antara komponen atau kegiatan kehuatan dengan peternakan. Bentuk-bentuk kombinasi tersebut antara lain dengan penanaman tanaman berkayu  bersama-sama dengan pakan ternak maupun pemanfaatan pohon sebagai batas padang gembala.

 

Beberapa komponen yang harus diperhatikan dalam penerapan silvopastura adalah pohon sebagai komponen kehutanan, ternak sebagai komponen peternakan, tanah, serta pemilihan jenis tanaman.Pohon sebagai tanaman keras yang akan ditanam dapat dipilih jenis-jenis lokal yang dapat menghasilkan atau menjadi sumber pemasukan jangka panjang. Pohon yang ditanam haruslah jenis yang cepat tumbuh, perakaran dalam, toleransi terhadap kekeringan, dan memiliki respon yang baik dalam prunning atau pemangkasan cabang. Jenis ternak yang dikombinasaikan dengan tanaman tersebut antara lain dapat berupa sapi, kambing, kuda maupun jenis unggas yang mampu hidup bersama-sama. Pemilihan jenis yang dimaksud adalah jenis tanaman yang akan dikombinasikan, misal rumput-rumputan maupun dengan jenis tanaman penghasil sumber pakan seperti jenis legume serta jenis yang mampu tumbuh di bawah naungan.

 

Pada lahan-lahan kritis dengan solum tanah yang tipis jenis-jenis tanaman legume merupakan jenis yang paling cocok untuk dikembangkan. Selain memiliki range toleransi yang  cukup luas dengan kondisi tanah, jenis ini juga dapat berfungsi untuk menyuburkan tanah dari semua bagian tanamannya. Legume memiliki C:N rasio rendah yang berari memiliki kandungan nitrogen tinggi yang berfungsi untuk menyuburkan tanah. Kandungan protein pada tanaman legume juga tinggi sehingga berguna untuk pakan ternak. Jenis-jenis yang cocok sebagai pakan ternak antara lain lamtoro, kaliandra, dan gamal. Nama terakhir cocok sebagai pakan namun harus diberi perlakuan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak. Pengetahuan-pengetahuan semacam inilah yang harus terus dihembuskan kepada masyarakat sebagai pengetahuan yang baru bagi mereka.

 

Salah satu bentuk pola yang dapat diterapkan adalah dengan pola TAB (Trees Along Border). TAB merupakan salah satu pola agroforestri yang mungkin sudah diterapkan oleh masyarakat luas. Penggunaan tanaman keras sebagai batas luar suatu wilayah atau lahan yang digunakan sebagai kandang  selain untuk membatasi gerak ternak namun juga dapat digunakan sebagai sumber pakan bagi ternak yang ada di dalamnya. Tentu dalam pelaksanaannya haru dilakukan denga seleksi jenis yang sesuai dengan kondisi tanah.

 

Selain pola TAB pola alley-cropping atau sistem tanam lorong dapat dikembangkan untuk pemenuhan kebutuhan pakan ternak. Penanaman tanaman keras dalam bentuk barisan dengan lahan kosong diantaranya dapat dimanfaatkan sebagai lokasi penanaman pakan ternak. Selain efisiensi pemanfaatan ruang maka pemanfaatan cahaya juga optimal. Namun yang harus diperhatikan adalah kondisi persaingan unsur hara pada masing-masing tanaman. Jenis-jenis alang-alang memiliki tingkat oportunitas terhadap nutrisi yang sangat tinggi sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pokok atau tanaman keras. Maka harus diperhatikan adalah pemilihan jenis serta jarak tanam sehinga persaingan nutrisi dapat diminimalisir.

 

Dwi Hartanto, S.Hut (Penyuluh Kehutanan TNLW)